Aplikasi pegas pada dinamometer

Apabila sebuah benda ditarik atau diberi dorongan dengan gaya tertentu, untuk mengetahui seberapa besar gaya yang diberikan pada benda dapat digunakan alat ukur fisika yaitu Dinamometer, lebih sering disebut dengan neraca pegas. Oleh karena itu alat ukur ini bisa juga untuk mengukur berat (gaya berat massa). Ujung pegas yang di kaitkan dengan sebuah benda bermassa, saat benda ditarik, maka pegas meregang dimana regangan pegas menunjukkan ukuran gaya, besar gaya tersebut ditunjukkan oleh jarum pada skala yang terdapat pada samping pegas. Prinsip dinamometer ini sama dengan prinsip hooke (hukum hooke) yakni gaya elastik sebagai penyebab getaran harmonis berbanding lurus dan berlawanan arah dengan simpanagan.

F= -kx

dimana k merupakan konstanta pegas.

Berikut adalah dinamometer beserta bagian – bagiannya :

picture1

a.      Gantungan : tempat untuk memegang dinamometer agar tidak mengganggu proses pengukuran

b.      Skala : nilai yang tertera pada dinamometer yang menunjukkan hasil pengukuran dengan ketelitian 0,1 N

c.       Batang : bagian luar yang membungkus pegas sehingga menjadi sistem

d.      Pengait : tempat benda diletakkan atau dikaitkan

e.      Pegas : bagian vital dari dinamometer yang berada di dalam dinamometer

Jika benda yang berada di pengait ditarik dengan gaya tertentu maka simpangannya atau gaya pemulihnya pasti akan bernilai negative. Sebab gaya pemulih merupakan gaya yang menyebabkan pegas kembali ke kedudukan semula sehingga berlawanan arah dengan gaya yang diberikan. Gaya yang diberikan pada benda berkaitan dengan gravitasi bumi sehingga perumusannya menjadi F = mg. Sedangkan perumusan gaya pemulih menjadi F = – kx.

mg = -kx

percepatan gravitasi dan konstanta pegas dapat diabaikan selama dalam keadaaan pengaruh gravitasi dan menggunakan pegas yang sama. Sebab dalam pembacaan skala dinamometer dengan membandingkan skala massa yang dihasilkan oleh simpangan pegas maka pada keadaan gravitasi yang beda dan pegas yang beda maka skala massa tersebut tidak akan berlaku.

Sebelum meggunakan alat ini sebaiknya dikalibrasi terlebih dahulu dengan memutar sekrup yang ada di bagian atas dinamometer tanpa beban hingga garis penunjuk skala menujukkan pada skala nol.

Daftar pustaka

www.gurumuda.com/pengukuran#more-1498

www.mustofaabihamid.blogspot.com

PLANETARY MOTION

Sistem Ptolemaeus dan Kopernik

Sebelum abad 15 para ilmuwan astronomi menganut pandangan yang menyatakan bahwa Bumi adalah pusat jagat raya dan semua benda langit bergerak mengelilinginya (geosentris). Sistem jagat raya dalam pandangan ini disebut sistem Ptolemaeus untuk menghormati ilmuwan astronomi Mesir kuno kenamaan yang pertama kali secara tertulis mengumumkan pandangan di atas dalam abad ke-2 sebelum Masehi. Pandangan Ptolemaeus ini memang sesuai dengan apa yang kita amati, dan memang tidak ada yang salah dalam pandangan ini. Namun, ternyata gerak benda-benda antariksa itu lebih rumit daripada yang teramati secara sepintas. Teori geosentris sulit menjelaskan gerak benda-benda antariksa yang rumit itu.

Barulah menjelang pertengahan abad 16 seorang ilmuwan astronomi berkebangsaan Polandia, Nicolaus Copernicus (1473-1543) mengemukakan, gerak benda langit akan menjadi lebih sederhana apabila Matahari yang dipandang sebagai pusat jagat raya (heliosentris). Secara tegas ia mengatakan, bukan Matahari yang bergerak mengelilingi Bumi seperti dalam pandangan Ptolemaeus yang dianut selama itu, tetapi justru sebaliknya, Bumilah bersama benda langit lainnya yang bergerak mengelilingi Matahari.

Karena dalam sistem Copernicus gerak benda langit tampak menjadi lebih sederhana dan pula memudahkan pengelompokan keluarga benda langit secara bersistem, maka sejak diumumkannya pandangan ini para ilmuwan astronomi segera beralih ke pandangan Copernicus. Dalam pandangan Kopernik ini para ilmuwan kemudian mengemukakan apa yang dikenal dengan Sistem Tata Surya, yaitu kelompok atau keluarga benda langit yang bergerak mengelilingi Matahari.


Orbit planet

Khusus mengenai peredaran Bumi kita beserta sejumlah planet lain mengelilingi Sang Surya. Tycho Brahe (1546-1601), seorang ilmuwan astronomi kenamaan berkebangsaan Denmark, secara tekun berhasil mengumpulkan data pengamatan yang cukup lengkap mengenai perubahan kedudukan planet pada saat-saat tertentu terhadap Matahari. Data ini kemudian dipelajari oleh salah seorang muridnya yang terkenal, Johanes Kepler (1571-1630). Berkat ketekunannya selama dua puluh tahun, akhirnya Kepler memperoleh kesimpulan menarik bahwa Orbit atau garis edar planet ternyata bentuknya tidaklah sembarang tetapi berupa suatu jorong atau elips dengan Sang Surya berada pada salah satu titik apinya. Kesimpulannya ini dikenal sebagai Hukum Orbit atau hukum pertama kepler. Orbit planet yang berbentuk elips dapat kita gambarkan seperti pada gambar yang memperlihatkan Matahari (M) berada pada salah satu titik apinya. Elips adalah sebuah bangun datar yang terbuat dari garis lengkung tertutup. Hukum kedua Keppler menyatakan Garis hubung planet dengan matahari akan menyapu luas yang sama dalam waktu yang sama.

Selain itu Kepler menemukan pula hukum periode yaitu Kuadrat periode revolusi planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-ratanya ke matahari, yang dikenal sebagai hukumnya yang ketiga. Ketiga Hukum Kepler di atas mengungkapkan suatu kenyataan alam yang sungguh menarik yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Hukum-hukum tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

  1. P adalah planet
  2. M adalah matahari
  3. Lintasan P mengitari M berbentuk Elips
  4. M berada pada salah satu titik api elips
  5. Perihelium adalah titik pada garis edar Planet yang terjauh dari M
  6. Aphelium adalah titik pada garis edar Planet yang terdekat dari M

Perhatikan Gambar berikut ini

picture4

Berdasarkan Hukum II Keppler, jika luas daerah I sama dengan luas daerah II, maka waktu yang diperlukan oleh planet untuk bergerak dari A ke B sama dengan waktu yang diperlukan oleh planet untuk bergerak dari C ke D, meskipun lintasan CD tidak sama dengan lintasan AB. Ini menunjukkan bahwa ketika planet berada di titik perihelium kelajuan revolusinya semakin besar, dan ketika planet berada di titik aphelium kelajuannya semakin kecil. Penerapakan hukum III Keppler adalah

picture11

<!–[if gte msEquation 12]>T2R3= konstan<![endif]–>

jika planet A berjarak RA dari matahari memiliki periode revolusi TA, sedangkan planet B yang jaraknya RB memiliki periode TB, maka :

picture6



Hukum gravitasi umum newton

Sebuah apel jatuh di bawah sebatang pohon apel di pekarangan. Dari kejadian ini ia memadukan hasil pengamatannya dengan pengetahuan yang sudah ada tentang gerak planet-planet mengelilingi matahari dan dari hasil perhitungan Kepler. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa ada gaya gravitasi semesta yang kemudian terkenal dengan nama “Hukum Gaya Berat (Gravitasi) Newton (1687)”. Hukum ini menyatakan, Dua benda yang terpisah oleh jarak tertentu cenderung tarik-menarik dengan gaya (atau kekuatan) alamiah yang sebanding dengan massa (atau ukuran kepadatan atau berat) masing-masing benda dan juga berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara keduanya.

picture1

G adalah tetapan perbandingan yang disebut tetapan gravitasi semesta

picture2

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan hukum gravitasi umum adalah

A. Benda dianggap berbentuk bola seragam atau berupa partikel sehingga r adalah jarak pisah antara kedua pusat benda 2.

B. Garis kerja gaya gravitasi terletak pada garis hubung yang menghubungkan pusat benda m1 dan m2.

C. F12 adalah gaya gravitasi pada benda 1 yang dikerjakan oleh benda 2 (aksi), sedangkan F21 adalah gaya gravitasi pada benda 2 yang dikerjakan oleh benda 1 (reaksi). Jadi F12 dan F21 adalah dua gaya yang bekerja pada benda berbeda sama besar dan berlawanan arah pasanagan gaya aksi-reaksi.

Teori Gaya Berat Newton mengungkapkan adanya gaya tarik Matahari pada planet yang massanya jauh lebih kecil daripada massa Matahari, dan oleh hukum geraknya yang menerangkan bagaimana perubahan gerak planet akibat pengaruh gaya berat ini. Jadi gaya berat inilah yang berperan mengubah keadaan gerak planet dari keadaan geraknya yang semula cenderung diam atau bergerak dengan kecepatan tetap sepanjang garis lurus. Hukum gerak selanjutnya menerangkan, planet pada saat semula tidak boleh dalam keadaan diam karena bila demikian, planet yang bersangkutan akan tertarik dan jatuh ke permukaan Matahari. Jadi ia tentulah bergerak dengan kecepatan awal tertentu terhadap Matahari dan tentulah menyimpang dari arah yang menuju kedudukan Matahari. Maka dalam keadaan gerak yang demikian, lintasan atau garis edarnya dapat berupa salah satu dari keempat irisan kerucut berikut yakni lingkaran, elips, hiperbola atau parabola.

Hukum Newton Kedua atau Hukum Gerak

Hukum ini dasarnya menyatakan hubungan antara gaya dan gerak yang menempatkan keduanya sebagai suatu hubungan sebab-akibat. Di sini gaya dikaitkan dengan kekuatan mendorong atau menarik yang berperan sebagai penyebab “perubahan gerak” sebuah benda, gaya adalah penyebab perubahan besar kecepatan (laju) dan arah gerak (arah kecepatan) benda dan Hukum Newton kedua ini menyatakan, Besarnya perubahan gerak benda yang secara pengukuran disebut percepatan berbanding terbalik dengan massa benda itu dan berbanding lurus dengan gaya penyebabnya.

picture3

Daftar Pustaka

Budikase. E dan Kertiasa, nyoman. 1995. Fisika . Jakarta : Balai Pustaka

file:///G:/planet/gerak-planet-dalam-tata-surya.html

file:///G:/planet/Hukum_gravitasi_universal_Newton.htm

file:///G:/planet/index.htm

Di tempat ini

Di tempat ini

Disini

Bukan tempat yang ku inginkan

Bukan pula impian ku berada

Di negeri orang

Sendiri…

Tapi disini

Aku menemukan segalanya

Sesuatu yang ku cari

Jiwa diri ku

Takdir hidup ku

Aku masih bertahan

Hanya untuk sementara

Karena kalian

Keberadaan kalian yang menguatkan ku

Senyuman kalian yang menghiasi hari hari ku

Suara kalian yang menenangkan ku

Dan

Kasih sayang kalian yang menjaga ku

cukup seperti ini

tanpa nama

mungkin itu sudah cukup

melangkah, tak berjejak

memperhatikan, tak terlihat

tersembunyi dalam bingkai bingkai ketakutan

biar…biar seperti ini

tanpa kata

tak kan berbeda

mengikat, tak memiliki

menjaga, tak melindungi

sejauh tak ada yang mengetahui

agar tetap seperti ini

Bel Pintu Dua Nada

Bel Pintu Dua Nada

January 15, 2011

MAKALAH

BEL PINTU DUA NADA

UKD4 Elektronika & Instrumentasi Dasar

lambang-uns

Disusun oleh:

Deajeng Wulandari                   (M0209012)

Riana Tri Setyadhani              (M0209044)

Veetha Adiyani Pardede        (M0209054)

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

PENDAHULUAN

Seiring dengan kemajuan teknologi modern sekarang ini yang menyediakan segala macam fasilitas yang serba praktis dan kemudahan yang diberikan kepada manusia sebagai pengguna, membuat kita merasa tertarik untuk memiliki dan menggunakan fasilitas tersebut. Demikian juga dengan bel pintu, bel pintu membuat kita lebih mudah dalam bertamu apalagi sekarang ini banyak rumah-rumah yang jarak antara gerbang dengan rumah cukup jauh. Dengan adanya rumah yang menggunakan bel pintu akan memudahkan si pengunjung (tamu) dalam melakukan hubungan dengan si pemilik rumah yang berada didalam tanpa mengucapkan salam dengan suara yang keras, selain itu dengan adanya bel pintu si pemilik rumah akan mengetahui adanya tamu yang berkunjung kerumahnya dengan mendengar bel yang dibunyikan oleh tamu. Maksud dari dua nada pada rangkaian ini merupakan sebuah rangkaian elektronika yang dapat menghasilkan keluaran yang berupa nada tinggi dan nada rendah. Perbedaan nada yang dihasilkan ini terjadi pada saat saklar ditekan yang akan menghasilkan nada tinggi sedangkan untuk nada rendah terjadi sesaat setelah saklar dilepas. Rangkaian ini menggunakan beberapa komponen elektronika yang diantaranya adalah saklar, dioda, resistor, kapasitor, loud speaker dan yang paling utama dari rangkaian ini menggunakan IC-555. Continue reading

takkan terlupakan

On 17 September 2009 

kini saya sudah resmi menjadi mahasiswi fmipa fisika uns,sebenarnya ini adalah pilihan ke 2 tapi insyaallah saya memahami pelajaran fisika.walaupun fisika adalh pelajarn tersulit tapi saya berhasil melawan semua saingan saingan saya untuk diterima di fmipa uns.
alasan saya memilih jurusan fisika, saya ingin mendalami lebih dalam ilmu ilmu fisika karena ilmu fisika ini menyangkut dengan gejala gejala alam yang ada disekitar kita dan kita mengalami gejala fisika itu setiap hari.
siapa tahu dengan saya mendalami ilmu fisika, saya bisa menciptakan suatu inovasi inovasi baru yang dapat digunakan oleh seluruh makhluk bumi untuk generasi mendatang.
Banyak yang bilang fisika itu susah,oleh karena itu saya ingin mendalami ilmu fisika dan membuktikan bahwa saya bisa mempelajari ilmu fisika.
Sebenarnya cita cita saya ingin menjadi seorang penulis,tetapi di zaman sekarang penulis kurang dihargai (berpenghasilan rendah).
sehingga saya memilih fisika untuk menjadi dasar bekal saya di masa depan.lulusan jurusan fisika bisa bekerja di perusahaan pemerintah dan swasta,bahkan bisa menjadi seorang pengajar dan rata-rata memiliki penghasilan tinggi dan itulah yang saya inginkan^_^

KERUSAKAN HUTAN DI INDONESIA

Karya: Antoni Manurung

PENGANTAR
Masih belum luput dari ingatan kita bersama peristiwa yang terjadi bulan January –2006 yang lalu. Peristiwa itu seolah-olah menjadi awal sejarah yang buruk ketika kita memasuki tahun 2006. Peristiwa itu adalah terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang dua desa di kecamatan Pati-Jember-Jawa Timur. Belum lagi upaya evakuasi dan pertolongan selesai dilaksanakan, bencana baru terjadi lagi. Banjir bandang dan tanah longsor kembali menimpa Gunungrejo-Kecamatan Banjarnegara-Jawa Tengah yang menimbun empat RT dengan jumlah penduduk enam ratus limapuluh lima orang. Kejadian yang mengenaskan itu tidak hanya menimbulkan kerugian material yang diperkirakan milyaran rupiah saja, tetapi nyawa manusiapun ikut melayang. Akibat peristiwa ini, sedikitnya seratus tigapuluh dua orang tewas, puluhan dinyatakan hilang, ratusan rumah penduduk dan fasilitas umum mengalami rusak berat dan puluhan hektar sawah yang merupakan sumber mata pencaharian penduduk tertimbun. Dua peristiwa ini adalah potret dari peristiwa-peristiwa yang lainnya. Salah satu faktor terjadinya bencana ini adalah akibat terjadinya kerusakan hutan.
Di Indonesia kerusakan hutan sudah merupakan suatu permasalahan yang besar, bahkan sudah mencapai ambang mengkhawatirkan. Menurut Menteri Kehutanan Republik Indonesia M.S.Kaban SE.MSi, salah satu penyebab kerusakan hutan di Indonesia adalah maraknya penebangan kayu liar (illegal loging). Saat ini diperkirakan kerusakan dan penggundulan hutan akibat penebangan kayu liar (illegal logging) sudah mencapai dua puluh juta hektare. Laporan Green peace menyebutkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia adalah kerusakan hutan tertinggi di dunia. Data Forest Watch Indonesia tahun 2003 menjelaskan bahwa laju kerusakan hutan di Indonesia saat ini telah mencapai 2,4 juta hektare pertahun.
Dalam makalah ini penulis akan membahas kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia. Faktor-faktor yang menyebabkannya, kemudian menghubungkannya dengan pendapat Hegel tentang agama sebagai sumber keterasingan manusia dari alam, dirinya sendiri dan sesama. Penulis akan lebih fokus mengenai keterasingan manusia dari alam. Melalui pembahasan ini pada akhirnya penulis akan melihat siapa masyarakat Indonesia.

II.KERUSAKAN HUTAN DI INDONESIA
Kerusakan hutan di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, a.l:
1.Kepentingan Ekonomi
Dalam mengelola hutan kepentingan ekonomi kelihatannya masih lebih dominan daripada memikirkan kepentingan kelestarian ekologi. Akibatnya agenda yang berdimensi jangka panjang yaitu kelestarian ekologi menjadi terabaikan. Proses ini berjalan linear dengan akselerasi perekonomian global dan pasar bebas. Pasar bebas pada umumnya mendorong setiap negara mencari komposisi sumberdaya yang paling optimal dan suatu spesialisasi produk ekspor. Negara yang kapabilitas teknologinya rendah seperti Indonesia cenderung akan membasiskan industrinya pada bidang yang padat yaitu sumber daya alam. Hal ini ditambah dengan adanya pemahaman bahwa mengexploitasi sumber daya alam termasuk hutan adalah cara yang paling mudah dan murah untuk mendapatkan devisa ekspor. Industrialisasi di Indonesia yang belum mencapai taraf kematangan juga telah membuat tidak mungkin ditinggalkannya industri padat seperti itu. Kemudian beban hutang luar negeri yang berat juga telah ikut membuat Indonesia terpaksa mengexploitasi sumber daya alamnya dengan berlebihan untuk dapat membayar hutang negara. Inilah yang membuat ekspor non- migas Indonesia masih didominasi dan bertumpu pada produk-produk yang padat seperti hasil-hasil sumber daya alam. Ekspor kayu, bahan tambang dan eksplorasi hasil hutan lainnya terjadi dalam kerangka seperti ini. Ironisnya kegiatan-kegiatan ini sering dilakukan dengan cara yang exploitative dan disertai oleh aktivitas-aktivitas illegal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar atau kecil bahkan masyarakat yang akhirnya memperparah dan mempercepat terjadinya kerusakan hutan.
2.Penegakan Hukum yang Lemah
Menteri Kehutanan Republik Indonesia M.S.Kaban SE.MSi menyebutkan bahwa lemahnya penegakan hukum di Indonesia telah turut memperparah kerusakan hutan Indonesia. Menurut Kaban penegakan hukum barulah menjangkau para pelaku di lapangan saja. Biasanya mereka hanya orang-orang upahan yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-harinya. Mereka hanyalah suruhan dan bukan orang yang paling bertanggungjawab. Orang yang menyuruh mereka dan paling bertanggungjawab sering belum disentuh hukum. Mereka biasanya mempunyai modal yang besar dan memiliki jaringan kepada penguasa. Kejahatan seperti ini sering juga melibatkan aparat pemerintahan yang berwenang dan seharusnya menjadi benteng pertahanan untuk menjaga kelestarian hutan seperti polisi kehutanan dan dinas kehutanan. Keadaan ini sering menimbulkan tidak adanya koordinasi yang maksimal baik diantara kepolisian, kejaksaan dan pengadilan sehingga banyak kasus yang tidak dapat diungkap dan penegakan hukum menjadi sangat lemah.
3.Mentalitas Manusia.
Manusia sering memposisikan dirinya sebagai pihak yang memiliki otonomi untuk menyusun blue print dalam perencanaan dan pengelolaan hutan, baik untuk kepentingan generasi sekarang maupun untuk anak cucunya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena manusia sering menganggap dirinya sebagai ciptaan yang lebih sempurna dari yang lainnya. Pemikiran antrhroposentris seperti ini menjadikan manusia sebagai pusat. Bahkan posisi seperti ini sering ditafsirkan memberi lisensi kepada manusia untuk “menguasai” hutan. Karena manusia memposisikan dirinya sebagai pihak yang dominan, maka keputusan dan tindakan yang dilaksanakanpun sering lebih banyak di dominasi untuk kepentingan manusia dan sering hanya memikirkan kepentingan sekarang daripada masa yang akan datang. Akhirnya hutanpun dianggap hanya sebagai sumber penghasilan yang dapat dimanfaatkan dengan sesuka hati. Masyarakat biasa melakukan pembukaan hutan dengan berpindah-pindah dengan alasan akan dijadikan sebagai lahan pertanian. Kalangan pengusaha menjadikan hutan sebagai lahan perkebunan atau penambangan dengan alasan untuk pembangunan serta menampung tenaga kerja yang akan mengurangi jumlah pengangguran. Tetapi semua itu dilaksanakan dengan cara pengelolaan yang exploitative yang akhirnya menimbulkan kerusakan hutan. Dalam struktur birokrasi pemerintahan mentalitas demikian juga seakan-akan telah membuat aparat tidak serius untuk menegakkan hukum dalam mengatasi kerusakan hutan bahkan terlibat di dalamnya.
Kerusakan hutan akan menimbulkan beberapa dampak negatif yang besar di bumi:
1.Efek Rumah Kaca (Green house effect).

Hutan merupakan paru-paru bumi yang mempunyai fungsi mengabsorsi gas Co2. Berkurangnya hutan dan meningkatnya pemakaian energi fosil (minyak, batubara dll) akan menyebabkan kenaikan gas Co2 di atmosfer yang menyelebungi bumi. Gas ini makin lama akan semakin banyak, yang akhirnya membentuk satu lapisan yang mempunyai sifat seperti kaca yang mampu meneruskan pancaran sinar matahari yang berupa energi cahaya ke permukaan bumi, tetapi tidak dapat dilewati oleh pancaran energi panas dari permukaan bumi. Akibatnya energi panas akan dipantulkan kembali ke permukaan bumi oleh lapisan Co2 tersebut, sehingga terjadi pemanasan di permukaan bumi. Inilah yang disebut efek rumah kaca. Keadaan ini menimbulkan kenaikan suhu atau perubahan iklim bumi pada umumnya. Kalau ini berlangsung terus maka suhu bumi akan semakin meningkat, sehingga gumpalan es di kutub utara dan selatan akan mencair. Hal ini akhirnya akan berakibat naiknya permukaan air laut, sehingga beberapa kota dan wilayah di pinggir pantai akan terbenam air, sementara daerah yang kering karena kenaikan suhu akan menjadi semakin kering.

2.Kerusakan Lapisan Ozon

Lapisan Ozon (O3) yang menyelimuti bumi berfungsi menahan radiasi sinar ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan di bumi. Di tengah-tengah kerusakan hutan, meningkatnya zat-zat kimia di bumi akan dapat menimbulkan rusaknya lapisan ozon. Kerusakan itu akan menimbulkan lubang-lubang pada lapisan ozon yang makin lama dapat semakin bertambah besar. Melalui lubang-lubang itu sinar ultraviolet akan menembus sampai ke bumi, sehingga dapat menyebabkan kanker kulit dan kerusakan pada tanaman-tanaman di bumi.

3.Kepunahan Species
Hutan di Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Dengan rusaknya hutan sudah pasti keanekaragaman ini tidak lagi dapat dipertahankan bahkan akan mengalami kepunahan. Dalam peringatan Hari Keragaman Hayati Sedunia dua tahun yang lalu Departemen Kehutanan mengumumkan bahwa setiap harinya Indonesia kehilangan satu species (punah) dan kehilangan hampir 70% habitat alami pada sepuluh tahun terakhir ini.

4.Merugikan Keuangan Negara.
Sebenarnya bila pemerintah mau mengelola hutan dengan lebih baik, jujur dan adil, pendapatan dari sektor kehutanan sangat besar. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Misalnya tahun 2003 jumlah produksi kayu bulat yang legal (ada ijinnya) adalah sebesar 12 juta m3/tahun. Padahal kebutuhan konsumsi kayu keseluruhan sebanyak 98 juta m3/tahun. Data ini menunjukkan terdapat kesenjangan antara pasokan dan permintaan kayu bulat sebesar 86 juta m3. Kesenjangan teramat besar ini dipenuhi dari pencurian kayu (illegal loging). Dari praktek tersebut diperkirakan kerugian yang dialami Indonesia mencapai Rp.30 trilyun/tahun. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan sektor kehutanan dianggap masih kecil yang akhirnya mempengaruhi pengembangan program pemerintah untuk masyarakat Indonesia.

5.Banjir.
Dalam peristiwa banjir yang sering melanda Indonesia akhir-akhir ini, disebutkan bahwa salah satu akar penyebabnya adalah karena rusaknya hutan yang berfungsi sebagai daerah resapan dan tangkapan air (catchment area). Hutan yang berfungsi untuk mengendalikan banjir di waktu musim hujan dan menjamin ketersediaan air di waktu musim kemarau, akibat kerusakan hutan makin hari makin berkurang luasnya. Tempat-tempat untuk meresapnya air hujan (infiltrasi) sangat berkurang, sehingga air hujan yang mengalir di permukaan tanah jumlahnya semakin besar dan mengerosi daerah yang dilaluinya. Limpahannya akan menuju ke tempat yang lebih rendah sehingga menyebabkan banjir. Bencana banjir dapat akan semakin bertambah dan akan berulang apabila hutan semakin mengalami kerusakan yang parah. Tidak hanya akan menimbulkan kerugian materi, tetapi nyawa manusia akan menjadi taruhannya. Banjir di Jawatimur dan Jawa tengah adalah contoh nyata .

3. AGAMA SEBAGAI SUMBER KETERASINGAN: TEORI HEGEL
Menurut Hegel agama adalah sumber keterasingan manusia dari alam, diri sendiri dan dari sesama. Dalam makalah ini penulis akan berfokus untuk melihat agama sebagai sumber keterasingan dari alam.
Keterasingan manusia dari alam menurut Hegel disebabkan karena manusia mengobjektifikasikan Allah sebagai objek dan sesuatu yang terasing. Bagi Hegel ini disebut agama yang tidak baik, bad infinity. Tuhan Allah dipahami sebagai Allah yang besar, mengatasi dunia yang terbatas dan terpisah dari kehidupan manusia. Dia adalah Allah yang berkuasa di atas dan tidak mempunyai persekutuan dengan manusia yang berada di bawah yaitu bumi. Dalam pemahaman yang seperti ini manusia tidak dapat berharap banyak untuk menemukan Allah di dalam alam sebab Dia terpisah dari alam. Karena pemahaman demikian, alam dilihat manusia sebagai sesuatu objek yang menakutkan sekaligus menjadi sumber bahaya bagi manusia. Alam dilihat sebagai sesuatu yang terasing dan sebagai sesuatu yang tidak bersahabat. Akibatnya manusia tidak dapat mengasihi alam. Manusia tidak lagi mencari keseimbangan hidup di alam yang dapat menyenangkan dan semangat kreativitas manusia untuk mengelola alam tidak lagi dipikirkan. Manusia terombang-ambing dalam menghadapi alam antara takut dan keinginan untuk menguasai alam.

Ketakutan manusia terhadap alam menimbulkan lahirnya keinginan manusia untuk ingin menguasai alam. Keinginan seperti itu ditambah lagi dengan sikap manusia yang tidak mengasihi alam dan hilangnya semangat kreativitas untuk mengelola alam. Akhirnya alampun dikelola dengan dasar kekuasaan, tidak lagi berdasarkan kasih atau kreativitas yang dapat mengelola alam dengan baik. Keinginan manusia untuk menguasai alam semata-mata bukan karena manusia senang dengan alam, tetapi karena manusia ingin memenuhi keinginannya sendiri. Itu dilakukan demi kepentingan manusia sendiri dan sebagai bukti kekuatan manusia dalam menaklukkan alam. Tindakan ini akhirnya sering diwujudkan dengan cara-cara yang exploitative dan sebagai dominasi manusia terhadap alam. Alam sungguh-sungguh dijadikan objek yang dikuasai manusia karena Allah tidak ditemukan di dalamnya. Alam menjadi suatu objek yang bagi manusia tidak memiliki nilai ilahi. Karena itu alam dapat dikuasai, ditaklukkan yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan terhadap alam. Pengelolaan alam bukan lagi atas dasar kasih dan kreativitas tetapi atas dominasi dan keinginan untuk berkuasa dan menaklukkannya

4.MASYARAKAT INDONESIA.
Seandainya Indonesia mempunyai kemauan untuk mengelola hutannya dengan baik dan jujur serta adil maka Indonesia dengan masyarakatnya akan hidup penuh dengan kemakmuran. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya; kerusakan hutan semakin parah, kemakmuran tidak dapat dinikmati, negara malah merugi dan bencana yang datang silih berganti.
Membaca teori Hegel, menurut penulis peristiwa ini adalah akibat dominasi dan tindakan exploitative yang dilakukan oleh manusia terhadap alam, dalam hal ini secara khusus terhadap hutan. Pengelolaan hutan yang dilaksanakan tidak didasari karena mencintai hutan yang dipadukan dalam semangat kreativitas, tetapi berdasarkan keinginan untuk berkuasa atas hutan dan keinginan untuk menaklukkannya. Perilaku ini tidak terlepas dari pandangan manusia yang mengobjektifikasikan Allah yang dilihat sebagai sesuatu yang besar, berkuasa dan berada di tempat yang terasing. Dia adalah Tuhan yang absen dan tidak dapat ditemukan di alam termasuk dalam hutan. Tuhan tidak ditemukan di hutan, termasuk hutan di Indonesia. Bahkan hutan menjadi seperti “hantu (sumber ketakutan) ” . Hutan dilihat sebagai sesuatu yang tidak mempunyai nilai ilahi, tetapi sebagai objek dan menakutkan. Karena hutan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan maka yang muncul justru rasa benci yang akhirnya diwujudkan melalui tindakan exploitasi terhadap hutan. Manusia tidak lagi mengasihi hutan termasuk dalam hal pengelolaannya. Tidak bersahabat dan tidak memiliki rasa persaudaraan terhadap hutan. Manusia tidak menyadari bahwa hutan memiliki peran yang dapat mempengaruhi kehidupan di atas bumi. Akhirnya sikap ini menimbulkan ketidakpedulian dan ketidakadilan terhadap hutan. Hutan dikuasai bahkan dijarah dengan cara yang sewenang-wenang untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya demi memenuhi kepentingan dan keinginan manusia sendiri.
Faktor-faktor yang lain turut juga mempengaruhi terjadinya kerusakan hutan di Indonesia. Dominasi kepentingan ekonomi, struktur birokrasi dan aparat pemerintah yang tidak tegas dalam penegakan hukum dan sikap manusia yang bersifat antrophosentris (manusia sebagai pusat) telah menambah kompleksitas penyebab rusaknya hutan Indonesia. Menurut penulis munculnya sikap dan keadaan demikian dalam masyarakat tidak lepas dari pandangan manusia yang mengobjekkan Tuhan juga. Sehingga hutan dianggap tidak memiliki nilai ilahi, karena Tuhan tidak ditemukan di hutan. Dia jauh dan terasing di atas. Akhirnya manusia benci dan tidak mengasihi hutan. Hubungan yang terjadi antara manusia dengan hutan bukan hubungan yang harmonis, tetapi menegangkan dan menakutkan. Akhirnya timbullah sikap yang mengobjekkan hutan dan menjadikannya hanya untuk memenuhi kepentingan ekonomi saja. Menggunakan hutan untuk kepentingan ekonomi merupakan tindakan yang sah-sah saja, sebab negara dan masyarakat yang sehat harus didukung oleh ekonomi yang sehat juga. Tetapi jika karena kepentingan ekonomi tindakan exploitative dihalalkan itu akan menjadi masalah dan inilah yang terjadi di Indonesia. Ini juga menimbulkan lemahnya penegakan hukum oleh aparat pemerintah di Indonesia bahkan tidak sedikit yang ikut terlibat dalam kejahatan yang menimbulkan kerusakan hutan. Ketidak seriusan dan ketidak tegasan untuk menindak dan mengungkap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak-pihak tertentu terhadap hutan adalah indikasi belum adanya kemauan untuk mengasihi hutan. Pandangan manusia yang mengangap dirinya sebagai pihak yang otonom dalam menentukan blue print pengelolaan hutan ikut memperparah keadaan tersebut, karena cenderung dilaksanakan demi pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri. Luasnya hutan Indonesia yang mengalami kerusakan, gundul dan penggurunan yang telah sering memicu terjadinya banjir seperti yang di desa Pati dan Jember adalah suatu pertanda bahwa hutan di Indonesia belum diperlakukan dan dikelola dengan baik. Apresiasi terhadap hutan Indonesia masih minim, sebaliknya exploitasi sangat meningkat. Hutan masih hanya sekedar objek ekonomi, belum diperlakukan seperti sahabat yang dicintai dan dalam pengelolaannya belum diperlakukan dengan baik. Itulah masyarakat Indonesia, yang terasing dari alamnya, terasing dari hutannya.